MENGAMUK
Kenapa terjadi?

Anak mengamuk ketika ia dipenuhi dengan hal-hal yang membuatnya marah/frustasi sehingga ia kehilangan seluruh pengendalian dirinya. Ketika anak menemukan banyak keterampilan baru, ketika berhadapan dengan keterbatasan kemandiriannya baik karena intervensi orang tua atau keterbatasan fisik dan inteklektual, seorang anak bisa mengamuk sekali sampai duakali sehari. Ia mungkin menendang-nendang, menjerit, menangis atau menahan napasnya hingga mukanya biru.

Orangtua mungkin bereaksi berlebihan terhadap hal itu. Membujuk-bujuknya agar berhenti, membentak, lebih buruk lagi kalau orangtua menjanjikan sesuatu bila anaknya mau berhenti. Meski ledakan kemarahan dimulai tanpa tujuan, tapi dengan segera akan menjadi kebiasaan bila ia menyadari bahwa ledakan itu bisa menghasilkan sesuatu yang enak.

Ia mendapatkan perhatian, dan juga mendapatkan apa yang diinginkan. Kalau orangtua bereaksi lain, amukannya kemungkinan besar akan menghilang perlahan-lahan.
Sebaliknya, reaksi berlebihan malah membuatnya makin sering melakukannya.

Apa yang harus dilakukan?
Yang paling penting anda harus mengabaikan amukannya ketika terjadi. Jangan mendekati anak yang sedang mengamuk, jangan mencoba berdalih dengannya atau bahkan sekadar berbicara dengannya ketika ledakan itu masih berlangsung. Pasanglah muka topeng, jangan menunjukkan rasa prihatin sedikit pun. Ini membutuhkan usaha, tapi ingat bahwa makin hebatnya amukan anak itu tergantung pada reaksi anda.

Namun, seharusnya anda tetap ada diruangan itu ketika anak mengamuk dengan melakukan kesibukan yang lain. Amukannya sebetulnya menakutkan diri si anak sendiri, maka kehadiran anda penting. Kalau amukannya begitu mengganggu orang lain, atau bila ada tamu, cukup bawa dia ketempat lain untuk melanjutkan amukannya secara privat.

Kalau si anak mulai melemparkan sesuatu, berkatalah dengan tenang dan tegas, "Kamu kena setrap. Tak boleh lempar-lempar atau dorong-dorong." Lalu setraplah dengan mendudukkannya di tempat ia berada. Jangan boleh bergerak sebelum amukannya reda.

Setelah amukan berhenti, tenteramkan hatinya. Duduklah bersamanya hingga ia pulih, lalu katakan, Ibu senang sekarang kamu merasa lebih enak. Kamu marah sekali ya. Ibu tahu. Tapi tak suka teriakan dan jeritan, maka ibu tak mau mendengar. Kalau ia sudah tenang, ajaklah anak anda melakukan kegiatan yang disukainya.

Anda perlu mengajarkannya cara alternatif untuk menghadapi frustasi dan kemarahan. Simak perilaku yang tampaknya menunjukkan kemajuan. Tunjukkan kepadanya betapa senang anda melihat kemajuan itu. Mungkin juga anda perlu menjelaskan bagaimana anda menghadapi perasaan anda sendiri. Dengan begitu anda memberikan model tentang cara yang benar dalam mengatasi stres dan menanggapi kesukaran yang dia hadapi (pengendalian perasaan dan emosi).

EMOSI PICU KEKERASAN
Ada satu solusi untuk menurunkan tingkat kriminalitas yang terus meningkat. Prof.Dr.Sarlito W. Sarwono mengatakan perlunya EI bagi setiap orang. Utamanya, untuk emosi. "Seseorang dikatakan cerdas, tidak cukup hanya jika ia memiliki IQ yang tinggi," ujar Sarlito. Lebih dari itu, kecerdasan emosional juga sangat penting.

Ini juga berkaitan dengan peningkatan angka kriminalitas yang terus-menerus setiap waktu. "Apa yang menjadi penyebabnya, itu perlu dicari," jelasnya dalam sebuah workshop Emotional Intellegence (EI) atau Kecerdasan Emosional di hotel Shangri-La, Jakarta,12/10.

Indonesian Children Walfare Foundation and Minister of Justice menunjukkan data terbaru tentang angka-angka kriminalitas khususnya yang dilakukan oleh anak. Pada 2003, sekitar 11.344 anak ditangkap karena tindakan kriminal, dan 2.000 masuk penjara karena alasan yang sama. Setahun sebelumnya, terdapat 1.184.000 anak mengalami putus sekolah dan terkena HIV/AIDS, sisanya 1.800.000 anak positif memakai narkoba.

Guru besar psikologi Universitas Indonesia ini mengatakan, faktor utama yang mendasari terjadinya hal-hal tersebut adalah rendahnya tingkat kecerdasan emosional masyarakat. "40 tahun terakhir, nilai sosial masyarakat menurun. Ini ditunjukkan oleh banyaknya masalah-masalah perceraian, sampai masalah kurangnya perhatian orang tua pada anaknya," ungkap Sarlito.

Orang yang memiliki kecerdasan emosional tinggi itu sendiri, ia artikan orang yang mampu untuk mengerti dan mengendalikan emosi diri. "Pertama, ia akan memiliki empati pada orang lain. Kedua, paham kondisi emosi orang lain."

Dengan demikian, orang akan cenderung memberikan pengendalian pada dirinya sendiri, terutama pengendalian dan kekerasan. Pendidikan EI memang lebih ditekankan pada anak-anak, meski sebenarnya dapat dilakukan pada segala umur. Diutamakan pada anak-anak karena pada masa itu pembentukan karakter dimulai. "Dengan demikian setelah mereka remaja akan sejalan dengan pemahaman nilai moral."

Yang perlu dilakukan orang tua untuk mendidik anaknya tentang EI, tentu diawali dengan memberikan perhatian yang cukup pada mereka. Selanjutnya perlu juga ditanamkan pada anak, tentang mengendalikan keinginan dan emosinya. Jangan biasakan anak-anak untuk meluapkan kemarahan atau kegembiraan yang berlebihan.

Seperti kebiasaan berteriak saat marah atau mudah menangis. "Dengan lebih banyak memberikan pengertian dan pujian, akan membantunya memahami nilai-nilai benar dan salah." Sayangnya, tutur Sarlito, hingga sekarang EI belum memiliki standar ukuran seperti halnya IQ. Karena ini sangat terkait dengan tradisi dan kebudayaan.